Berikut ini adalah sebuah tulisan yang didapat dari email. Mohon maaf pada penulis jika saya posting di blog ini. Mudah2an menjadi sebuah renungan bagi para abi dan umi yang telah memilih da’wah sebagai jalan hidupnya.
ANAK IKHWAH…
Bismillahirrahmanirrahiim…
Sebelumnya, tulisan sederhana ini saya buat bukan untuk membuka aib jama’ah apalagi bergunjing. Tulisan ini lahir, karena saya pribadi ingin, kita semua tidak mengulang kesalahan yang sama. Kita adalah pribadi yang akan menerima tongkat amanah dari para pendahulu kita, yang kini berada di garda terdepan pergerakan. Kita, jelas harus lebih baik dari mereka. Kekecewaan (apabila hal itu sempat terlintas dalam hati), jangan membuat kita kemudian mundur dan berubah halauan. Sebaliknya, sebuah kekecewaan, harus mampu membuat kita bertekad untuk tetap pada jama’ah ini sembari memperdalam ilmu, mempertajam bashirah, untuk kemudian menggantikan mereka yang kini berada di baris terdepan, memimpin jama’ah dengan lebih baik lagi.
Kemudian, perkenalkan, saya Aida Hanifa. Sebuah nama, pemberian Ustadz Rahmat Abdullah (Almarhum). Nama untuk adik2 sayapun yang memberikan adalah Ustadz Rahmat Abdullah. Karena beliaulah murobbi Ayah saya yang pertama dan terakhir. Lahir dari keluarga assabiqunal awwalun gerakan tarbiyah. Akrab dengan tarbiyah sejak kecil, dan sempat merasa tidak ingin menjadi bagian dari jama’ah ini ketika badai yang kita sebut “pubertas” muncul. Kala itu saya merasa, bahwa keluarga saya aneh; dengan ibu berjilbab lebar, adik2 yang banyak (dengan nama yang terdengar ‘aneh’ pula untuk orang ammah pada saat itu), selalu memakai kaus kaki setiap keluar rumah, bapak yang punya janggut tipis, dan lain-lain. Tidak ada kebanggaan pada diri saya terhadap keluarga. Saya bosan dengan doktrin, tidak boleh ini-itu, sementara teman saya, enak keluar-masuk bioskop, pacaran, jalan2 ke mall. Sementara saya, jalan2 ke mall harus bersama orangtua.
Ternyata, hal ini tidak saya rasakan sendiri. Semua teman sebaya saya, yang berasal dari keluarga tarbiyah, memiliki problem yang sama ketika masa remaja masuk. Saya tinggal di lingkungan ikhwah, sehingga hubungan satu keluarga dengan keluarga lain cukup dekat. Selama 22 tahun, saya berteman dengan teman2 yang sama; sesama anak ikhwah, dan tidak pernah kehilangan kontak. Kami tahu masalah masing2 walau sekolah kami berbeda selepas SMP. Dan masalah kami, kemudian sama; merasa aneh sendiri dengan keluarga kami, dan berusaha agar tampil ‘biasa’, seperti remaja ‘biasa’.
Pembangkangan skala kecil mulai dilancarkan. Tidak ingin pakai jilbab lebar, cukup yang kecil saja. Tidak ingin lagi pakai rok dan gamis, maunya pakai celana jeans. Tidak ingin datang liqo, maunya ke main dengan teman. Tidak ingin lagi terlihat malu2 di depan anak lelaki, dan inginnya cair. Dan sudah alamiahnya, pembangkangan kecil ini menjadi pembangkangan tingkat menengah; pacaran, merokok. Dan pembangkangan tingkat menengah, menuju pembangkangan tingkat tinggi; pergaulan bebas sampai kemudian hamil, kecanduan narkoba, putus sekolah.
Adakah anak ikhwah yang seperti itu?
Jawabnya: Ada.
Dua minggu lalu, bapak saya mendapat kabar mengejutkan: “Akh, salah satu anak kita, ada yang over dosis…” begitu kata teman bapak saya. Kemudian, saya dengar bapak saya beristighfar berkali-kali.
Beberapa bulan sebelumnya, bapak saya juga mendapat kabar dari temannya: “seorang anak ikhwah teriak2 di malam hari karena sakaw”
Lain waktu: “Z, diusir bapaknya dari rumah. Katanya dia merokok. Dia juga dikeluarkan dari SMA-nya karena terlibat perkelahian…”
Dulu, 6 tahun lalu, saat saya sedang senang-senangnya dengan seragam putih abu-abu, tersiar kabar bahwa teman baik saya, R, hamil. Saya shock. Sangat. Bagaimana bisa…? Pertanyaan bodoh. R, memang saya tahu punya pacar. Mereka sering pergi berdua diam2. Tapi tidak pernah terlintas dalam benak saya, akan jadi sejauh ini.
Tidak ada keluarga ikhwah yang kala itu tidak tahu berita ini. Walau begitu, berita ini benar2 dijaga, agar tidak terdengar ikhwah2 yang kala itu belum berkeluarga atau baru bergabung dalam jama’ah.
Ayah-ayah kami, para murobbi, menutupnya. Tidak ingin menceritakannya pada mutarobbinya.
Kala itu, keluarga ikhwah yang merupakan assabiqunal awwalun gerakan ini, berkabung. Diam dalam kesedihan. Hingga Ustadz Rahmat meminta, untuk tidak usah membahas persoalan ini lagi. “Case is closed” begitu ujarnya.
Saat itulah, titik balik bagi saya. Saya belajar banyak dari R, yang hingga kini belum pernah saya jumpai walau sering saya bertemu ibunya, bapaknya, adik-adiknya, dan melewati rumahnya. Sebuah pembangkangan kecil, akan membawa kita pada pembangkangan yang besar kalau pembangkangan kecil ini, tidak segera diantisipasi.
Maka, keputusan ibu dan bapak saya untuk pindah jauh dari pemukiman ikhwah, adalah hal yang tepat. Karena pemukiman ikhwah, tidak selamanya mampu menjaga anak dengan nilai Islami apabila tidak benar2 menggunakan sistem isolasi.
Fenomena ini seperti penyakit. Satu anak terkena, akan mudah menular pada anak yang lain. Karena hubungan sesama anak ikhwah, adalah hubungan yang lebih dari saudara sedarah. Kami sudah saling menyapa melalui rahim ibu kami masing2. Sekolah di TK, SD, dan SMP yang sama. Dan ketika putih abu2 menjadi kebanggaan kami, kami tetap punya kisah dan perasaan yang sama. Satu sakit, yang lain sakit. Satu baik, belum tentu yang lain baik. Anak2 ikhwah yang baik akan sulit menularkan kebaikannya dengan yang lain. Ia akan terisolasi dari pergaulan teman-teman kecilnya yang sudah jadi ‘anak remaja biasa’.
Ini bukan asumsi, tapi sudah terbukti. Terbukti pada diri saya dan adik-adik saya. Dan terbukti pula pada mutarobbi saya. Sudah dua tahun lebih, saya membina halaqoh anak ikhwah seumuran SMA. Mereka semua, adalah yang tersisih dari pergaulan teman sebaya sesama anak ikhwah. Hal ini terasa sekali ketika bulan pertama membina mereka. Tadinya, ada 10 anak yang ikut halaqah. Mereka terpecah dua. Enam orang, “anak ikhwah gaul”. Empat orang, “anak ikhwah baik” (terpaksa saya menggunakan istilah ini, agar dapat dibedakan). Yang terjadi setahun berselang adalah, “anak ikhwah gaul” terlalu malu untuk hadir liqo dan duduk bersama “anak ikhwah baik”. Padahal mereka dulunya pas SD satu kelas. Ibu dan bapak mereka saling kenal baik satu sama lain. Mereka juga bertetangga.
***
Apa yang membuat fenomena ini terjadi dan bagaimana mengatasinya?
- Seorang ummahat pernah berkata pada saya: “insya Allah, uang tidak masalah bagi ana, kalau anti memang perlu uang untuk memfasilitasi halaqah anak-anak…” Seandainya, anak ibu bisa ditarbiyahi dengan uang, saya akan meminta sebanyak-banyaknya, Bu, begitu batin saya. Inilah paradigma yang mesti diubah. Keadaan ekonomi ummahat saat ini, sudah berbeda dari keadaan ekonomi ummahat di masa awal2 tarbiyah. Partai, sedikit banyak telah membuat mobilisasi sosial secara vertikal. Tapi ternyata, bukan berarti kemudian semua masalah dakwah bisa diselesaikan dengan uang. Para ummahat keluar rumah atas nama dakwah sementara anak bersama khadimat. Dan sebagai penebusan rasa bersalah, anak diberi fasilitas macam2. Kalau anak ammah diberi uang saku karena ibu bapak bekerja, maka anak ikhwah sekarang, banyak diberi uang saku karena ibu bapak berdakwah. Uang, bukanlah solusi yang baik untuk menebus waktu keluarga yang hilang. Namun sayangnya, fenomena ini makin sering saya jumpai.
- Perhatian yang longgar dan tidak tega menegur anak dengan keras. Kita mungkin terlalu sibuk berdakwah hingga melupakan anak. Padahal, anak juga aset dakwah. Sama sekali tidak salah bila salah satu dari orangtua fokus mengurusi anak. Karena walau bagaimanapun, regenerasi dakwah paling baik adalah dari hubungan darah karena terpercaya nasabnya. Kalaupun keduanyan ingin aktif dakwah, maka sang ibu bisa mencoba memusatkan kegiatan dakwah di rumah, dan hanya keluar rumah untuk hal2 yg perlu. Ingat, kewajiban seorang ibu sebenernya cuma dua; melayani suami dan mendidik anak. Ibu tidak perlu ngoyo berdakwah sampai tiap hari pergi dari pagi sampai malam. Sisakan waktu untuk keluarga. Karena anak-anak yang baik itu karena didikan ibunya yang juga baik. Ketika seorang anak ikhwah ditemukan pingsan di kamar mandi karena overdosis, ibunya curhat: “kenapa bisa begini, ustadz? Siapa yng membuat anak saya seperti ini?”. Kira2, tepatkah pertanyaan itu dilontarkan setelah anak overdosis karena heroin? Kasarnya begini; ibu ke mana aja kemaren2? Anak ibu ‘kan nggak ujug2 jadi pemakai narkoba. Pasti ada tahapannya. Dan ketika pembangkangan kecil dan menengah terjadi, tidakkah ibu mengingatkannya dan mengambil langkah antisipasi?
- Bapak yang berpoligami. Sebuah kasus, anak ikhwah diusir ayahnya dari rumah karena ketahuan merokok, dan dikeluarkan dari sekolah karena berkelahi. Kenapa diusir? Kenapa tidak diberi pendekatan dulu? Dan saya pribadi merasa lucu, karena saya tahu betul Sang Ayah jarang di rumah, dan punya istri dua. Kasus lain juga sama. Anaknya sekolah di SMA teladan, tapi memakai obat terlarang. Bapaknya punya istri tiga. Hei, bagaimana bisa si anak mencontoh figur bapak yang baik, kalau bapak jarang di rumah karena sibuk berbagi jadwal dengan 3 istri? Jadi, jangan berpoligami kalau urusan keluarga dari istri pertama belum beres, apalagi ketika anak sedang masa puber, di mana figur ibu dan bapak diharapkan tersaji secara utuh. Bukankah orang yg paling tahu perasaan di kala puber adalah diri kita sendiri? Maka coba rasakan kembali perasaan ABG di masa puber. Saya paham kok bapak mau mencontoh sunnah nabi dalam berpoligami, tapi please, perhatikan dampaknya buat anak remaja.
- Tidak adanya sinergi yang manis antara ibu dan bapak dalam hal pembagian aktivitas dakwah. Jadi, alangkah baiknya kalau tercipta sinergi yang manis antar keduanya. Supaya ada giliran, ketika ibu di rumah, bapak di luar dan sebaliknya. Yang sering terjadi adalah duet maut di mana ibu dan bapak sama2 rapat atau keluar atas nama dakwah. Makan waktu berhari-hari pula. Sehingga anak akhirnya merasa nyaman tanpa orangtua di rumah, dan sebaliknya, tidak nyaman ketika orangtua di rumah. Di sebuah pemukiman ikhwah, anak2 lelaki lebih suka main futsal atau badminton malam minggu sampai jam sebelas. Ditanya oleh Ketua DPC, kenapa pilih hari itu? apa tidak menganggu acara keluarga? Dan jawaban mereka adalah: “sengaja, Pak. Soalnya kalo malam minggu mereka di rumah. Biar kalo habis pulang main futsal, abi sama ummi udah tidur…” Nah, saya melihat bagaimana orangtua saya sering berunding secara terbuka apabila keduanya memiliki aktivitas yang sama dan memakan waktu lama. Biasanya, ibu saya mengalah, dan tinggal di rumah sementara bapak saya berangkat. Soal perizinan, itu gampang, kata bapak saya “mereka (para penyelenggara acara) harus tahu, bahwa nggak baik anak2 itu di rumah tanpa orang tua. Ini bukan soal keamanan. Tapi soal kenyamanan hubungan anak dengan orangtua.”
- Ketika ingin memberikan batasan dan aturan, sertakan dengan penjelasan yang dapat diterima akal remaja. Kejadian yang seringkali terjadi adalah orangtua mengatakan: “ya pokoknya ga boleh pacaran, ya ga boleh! Dosa! Allah nggak suka!!” atau sejenisnya. Sehingga, remaja bukannya dapat jawaban, malah dapat perasaan nggak suka: “kok Ummi keras amat sih? Kan cuma nanya…” Nah, katakan baik2 apa sebabnya batasan dan aturan itu dibuat. Bicara dengan lemah lembut dari hati ke hati. Ibu saya sering memberikan taujih di saat kami santai, seperti saat makan bersama di luar, saat belanja, atau makan bersama di rumah. Ibu saya melayani pertanyaan2 paling kritis dan gila sekalipun dari saya dan adik2, dan menjawab dengan intonasi yang sama seperti di awal, tidak berubah jadi naik.
- Oknum tertentu, sedang berusaha menggerogoti jama’ah ini melalu generasi mudanya. Mereka (para oknum itu) bisa jadi kesulitan menggoyahkan langkah para ibu dan bapak, sehingga yang menjadi sasaran adalah anak-anaknya yang masih labil. Ini bukan asumsi, tapi kenyataan. Anak2 yang kecanduan narkoba, diselidiki sering nongkrong di tempat2 tertentu. Dan tidak menutup kemungkinan, di tempat2 itu para musuh2 melancarkan aksinya.
Mungkin, enam hal itu saja yang baru terlintas dari pikiran saya. Saya harap teman2 bisa menambahkan. Seperti biasanya tulisan saya, tidak ada dalil, walau sebenarnya ingin mencantumkan. Tapi ini benar2 tulisan sekali jadi yang mengalir begitu saja. Mungkin lain waktu ketika ada waktu luang yang panjang, saya akan mengedit tulisan ini agar lebih baik.
Tulisan ini, (sekai lagi) tidak sedang menghakimi keluarga ikhwah. Saya hanya ingin berbagi kisah, agar bisa kita ambil hikmahnya. Selain itu, mari kita berdo’a semoga keturunan kita kelak ga susah2 amat dididik dalam alam tarbiyah. Karena harus kita sadari, ‘keluarga’ juga merupakan objek dakwah. Ingat pula tujuan tarbiyah: memperbaiki diri sendiri, memperbaiki keluarga, menciptakan masy. muslim, menciptakan daulah islamiyah, dan terakhir menjadi ustadziatul alam. Jadi, setelah diri sendiri tertarbiyah, keluarga harus jadi pihak kedua yang kita tarbiyahi, baru orang lain. Kesimpulannya, kalau kita berkeluarga, jangan terlalu sibuk dakwah keluar kalau keluarga belum tersentuh nilai2 tarbiyah dari kita. Prioritaskan dulu keluarga. Wallahu’alam bi showab.
Diiringi istighfar,
Jati Mekar, 14 Dzulqaidah 1430





Be The First To Comment
Related Post
Please Leave Your Comments Below